Berita  

Wagub Johni Asadoma Ajak Siswa-Siswi SMK Negeri 6 Kupang Tanamkan Jiwa Wirausaha

Kupang,Arahntt.com-Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mendorong SMK Negeri 6 Kupang untuk terus memperkuat pendidikan karakter, kompetensi kejuruan, serta jiwa kewirausahaan peserta didik sebagai bekal menghadapi dunia kerja dan tantangan masa depan. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan ke SMK Negeri 6 Kupang, pada Rabu (9/9/2026).

Wakil Gubernur Johni mengungkapkan, semangat pendidikan vokasi tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik dan keterampilan, tetapi juga kesiapan siswa untuk menciptakan peluang usaha. Menurutnya, lulusan sekolah kejuruan perlu memiliki perspektif yang lebih luas mengenai masa depan. Lulusan tidak harus selalu berorientasi menjadi pegawai atau mencari pekerjaan, tetapi juga harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui keterampilan yang diperoleh selama menempuh pendidikan.

Johni menjelaskan bahwa peluang untuk bekerja sebagai pegawai pemerintah semakin terbatas. Karena itu, penguatan pendidikan vokasi dan kewirausahaan menjadi penting agar generasi muda memiliki pilihan yang lebih luas setelah menyelesaikan pendidikan. “Mindset berwirausaha sangat tepat ditanamkan sejak masih sekolah, terutama di SMK. Inilah salah satu keunggulan SMK,” katanya.

Ia mengingatkan para siswa agar tidak takut memulai usaha dari skala kecil. Menurutnya, keberhasilan dalam berwirausaha membutuhkan ketekunan, keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca pasar, pengelolaan keuangan yang baik, serta kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan jaringan.

“Semua pengusaha sukses mulai dari usaha yang kecil. Tidak ada yang langsung besar. Yang penting tekun, pantang menyerah, berani mengambil risiko, hemat, dan terus mengembangkan jaringan,” jelasnya.

READ:  Tak Terbendung, Simpatisan Melki-Johni Banjiri Lapangan Sitarda, Massa Terus Berdatangan

Johni juga menekankan pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill. Menurutnya, keterampilan teknis sesuai jurusan merupakan modal penting, tetapi tidak akan cukup apabila tidak disertai karakter dan sikap yang baik. “Tidak cukup hanya pintar dan terampil. Kita membutuhkan soft skill. Disiplin, jujur, komunikatif, ramah, tangkas, pantang menyerah, mampu bekerja sama, dan mampu mengelola waktu. Itu semua sangat menentukan keberhasilan seseorang,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan siswa untuk menggunakan teknologi dan media sosial secara bijak. Kemajuan teknologi, menurutnya, harus dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan mengembangkan kemampuan, bukan justru menjadi penghambat masa depan.
Selain karakter dan keterampilan, Wagub  Johni menekankan pentingnya kreativitas, inovasi, kemampuan berpikir kritis, keberanian menyampaikan gagasan, empati, serta kemampuan bekerja sama.

Ia mengajak para siswa untuk selalu bertanya dan mencari tahu alasan di balik suatu persoalan. Sikap tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari critical thinking yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, pekerjaan maupun kewirausahaan.

Wakil Gubernur juga mengajak siswa untuk membangun pola pikir yang berorientasi pada tujuan, bukan terjebak pada hambatan. ”Karena itu, semangat untuk berhasil dan orientasi pada tujuan harus menjadi mindset anak-anak sekalian. Kalau pikiran kita tertuju pada tujuan, kita akan mencari berbagai cara untuk mengatasi hambatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SMK Negeri 6 Kupang, Asa Manason Lahtang, dalam sambutannya menjelaskan berbagai inovasi dan pengembangan yang dilakukan sekolah untuk memperkuat pendidikan vokasi. Saat ini SMK Negeri 6 Kupang memiliki 927 siswa yang terdiri dari 305 siswa kelas X, 312 siswa kelas XI, dan 310 siswa kelas XII. Sekolah tersebut didukung 91 guru dan tenaga kependidikan, terdiri dari 70 guru dan 21 tenaga kependidikan.

READ:  Program Satu Kampung Satu Produk Dari  Melki -Johni  Dapat Dukungan Penuh Dari Pemerintah Pusat

Asa  menjelaskan, SMK Negeri 6 Kupang memiliki lima program keahlian, yakni Desain Komunikasi Visual, Teknik Komputer dan Jaringan, Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim, Akuntansi Keuangan Lembaga, serta Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis.

Asa menerangkan  konsep pendidikan vokasi yang dikembangkan sekolah tidak hanya berfokus pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi memperbanyak pelatihan, praktik, kemitraan, dan pendampingan siswa hingga setelah mereka menyelesaikan pendidikan. “Kami berpikir bahwa pendidikan vokasi tidak hanya berbicara tentang pembelajaran, tetapi harus lebih banyak pada pelatihan dan praktik. Pendampingan bukan hanya saat mereka di sekolah, tetapi sampai mereka tamat pun tetap kami lakukan,” ujarnya.

“Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pembangunan IT Center. Gagasan tersebut muncul setelah pihak sekolah melakukan kunjungan ke Yogyakarta pada 2023 dan melihat keberadaan pusat pelatihan teknologi informasi yang mampu menarik peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ketika kami pulang ke Kupang, saya mengatakan tiga tahun ke depan SMK Negeri 6 harus punya IT Center dan orang datang belajar di kita, bukan kita yang belajar di orang,” ungkap Asa.

READ:  Jejak Charlie Paulus di Dunia Perbankan, Hingga Panggilan untuk Pulang Mengabdi Untuk NTT

Ia menerangkan IT Center tersebut dibangun secara bertahap dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki sekolah. Lantai pertama dimanfaatkan untuk pusat bisnis dan promosi sekolah serta koperasi. Lantai kedua digunakan sebagai ruang pelatihan coding, sementara lantai ketiga diarahkan untuk pengembangan program SMK Go Global, termasuk Migrant Center sebagai bagian dari persiapan siswa yang ingin bekerja ke luar negeri.

“Semua ini kami lakukan untuk siswa, agar mereka dibekali dengan berbagai pengetahuan, pelatihan dan pemahaman,” kata Asa.

Selain IT Center, SMK Negeri 6 Kupang juga memperkuat kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri. Sekolah tersebut telah membangun jaringan dengan lebih dari 100 mitra, terutama perusahaan swasta, sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan praktik kerja lapangan dan pengalaman industri bagi siswa.

“Di bidang kewirausahaan, sekolah mengembangkan toko sekolah, koperasi, unit produksi, serta E-Learning Cafe yang mengusung konsep pembelajaran menyenangkan. Menurut Adi, pembelajaran tidak harus selalu berlangsung dalam suasana kelas yang kaku. Kelompok belajar dapat berlangsung di berbagai tempat dan dengan metode yang lebih kreatif,” terang beliau.

“Kami berupaya melawan stigma yang mengatakan bahwa penghasil pengangguran terbesar adalah SMK. Karena itu, sekolah terus membekali siswa dengan berbagai pengetahuan, pelatihan dan pemahaman,” tegasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *