Berita  

Bank NTT dan Undana  Akan  Dampigi UMKM , Nelayan dan Petani Dalam Sektor Keuangan

KUPANG,Arahntt.com – Ada senyum yang mengembang di ruang pertemuan Kantor Pusat Bank NTT, Jumat, 17 Juli 2026, siang itu. Suasananya hangat, bahkan sesekali diselingi tawa. Namun, yang paling membekas justru sebuah kalimat sederhana yang meluncur dari Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng.

“Kalau boleh dibilang, ini CLBK.”
Ruangan pun seketika mencair.
CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali, menjadi ungkapan yang bukan sekadar mengundang senyum, tetapi juga merangkum makna pertemuan dua institusi yang selama puluhan tahun sama-sama bertumbuh bersama Nusa Tenggara Timur.

Di momentum Hari Ulang Tahun ke-64 Bank NTT, hubungan yang sempat merenggang karena dinamika waktu itu kembali dirajut. Bukan sekadar melalui penandatanganan nota kesepahaman, melainkan lewat kesamaan visi untuk membangun daerah.

Di satu sisi berdiri Bank NTT, lembaga keuangan yang menjadi urat nadi perekonomian daerah. Di sisi lain ada Undana, perguruan tinggi terbesar di Nusa Tenggara Timur yang selama ini menjadi kawah candradimuka lahirnya sumber daya manusia.

Dua institusi. Satu cita-cita.
Bagi Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, kerja sama ini tidak boleh berhenti pada urusan administratif atau sebatas layanan pembayaran uang kuliah.

Menurutnya, tantangan Nusa Tenggara Timur membutuhkan kolaborasi yang jauh lebih besar daripada sekadar hubungan antara bank dan kampus.
“Kami ingin membangun sesuatu yang lebih bermakna,” ujarnya.

READ:  Usai Lantik DPD Pemuda Tani Indonesia NTT, Gubernur Melki Tekankan Percepatan Gerakan Tani Anak Muda

Charlie melihat banyak pelaku UMKM, petani, nelayan, hingga pembudidaya rumput laut yang memiliki potensi besar, tetapi belum mampu berkembang optimal karena minimnya

pendampingan.
Persoalannya sering kali bukan pada kemauan bekerja. Yang kurang adalah pengetahuan.

Ia mencontohkan pengalamannya saat mengunjungi sejumlah daerah di NTT. Tanaman tumbuh subur, hasil laut melimpah, tetapi nilai ekonominya belum maksimal karena pengelolaan usaha, kualitas produksi, hingga pemasaran belum dilakukan secara profesional.

Padahal, sedikit sentuhan ilmu pengetahuan dapat mengubah hasil yang biasa menjadi luar biasa. Di situlah Charlie melihat Undana memiliki peran penting.

Bank NTT, katanya, siap membiayai program-program pendampingan apabila para akademisi Undana bersedia turun langsung mendampingi masyarakat.

“Kalau manfaatnya kembali kepada masyarakat, mengapa tidak kita lakukan bersama?” katanya.

Gagasan itu disambut antusias oleh Prof. Jefri Bale.
Baginya, kampus memang tidak boleh hanya menghasilkan ijazah.
Perguruan tinggi harus mampu menghadirkan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia mengaitkan semangat itu dengan program yang kini terus didorong Pemerintah Provinsi NTT, yakni Tanam, Panen, Olah, Kemas, dan Jual.

Menurutnya, masyarakat NTT sudah terbiasa menanam dan memanen. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana hasil itu diolah, dikemas secara menarik, lalu dipasarkan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

READ:  Atasi Angka Putus Sekolah, Pemprov NTT Resmikan SMA Kelas Jauh di Pulau Ternate

Di sinilah ilmu pengetahuan harus bekerja. Teknologi, inovasi, riset, hingga kreativitas anak-anak muda kampus harus keluar dari ruang kuliah dan hadir di kebun, di tambak, di pesisir, hingga di sentra-sentra UMKM.

“Kalau itu dilakukan bersama, manfaatnya akan langsung dirasakan masyarakat,” kata Prof. Jefri.

Kerja sama itu juga membuka jalan bagi generasi muda.

Charlie mengungkapkan, Bank NTT tengah menyiapkan program magang dengan konsep yang jauh lebih serius.
Mahasiswa tidak lagi sekadar menjalani praktik kerja formalitas.
Mereka akan mengikuti pembelajaran di kelas, mendapatkan mentor di setiap unit kerja, dan diberi kesempatan memahami dunia perbankan secara profesional.

Lebih dari itu, mahasiswa yang menunjukkan kemampuan terbaik berpeluang direkrut menjadi bagian dari keluarga besar Bank NTT.
Magang bukan lagi sekadar memenuhi syarat akademik. Magang menjadi pintu masuk menuju dunia kerja. Sebuah jembatan antara kampus dan profesi.
Komitmen itu diperkuat dengan rencana penyediaan beasiswa bagi mahasiswa Undana.

Bagi Bank NTT, bantuan pendidikan bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan.
Lebih dari itu, beasiswa adalah investasi jangka panjang bagi masa depan Nusa Tenggara Timur.

Prof. Jefri mengakui, masih banyak mahasiswa berprestasi yang harus berjuang keras menyelesaikan pendidikan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Karena itu, setiap kesempatan yang membuka akses pendidikan akan menjadi harapan baru bagi banyak anak muda.

READ:  Melanggar Ham  Kuasa Hukum Gama Feroh Minta Kapolri  Copot Kapolda NTT

“Mereka memiliki kemampuan. Yang mereka butuhkan hanyalah kesempatan,” ujarnya.

Sesungguhnya, kerja sama yang ditandatangani pada hari itu hanyalah awal.
Yang jauh lebih penting adalah komitmen untuk terus berjalan bersama. Bank NTT membawa kekuatan pembiayaan. Undana menghadirkan kekuatan ilmu pengetahuan.
Jika keduanya berjalan beriringan, manfaatnya tidak hanya dirasakan kedua institusi, tetapi juga petani yang memperoleh pendampingan, pelaku UMKM yang naik kelas, mahasiswa yang mendapatkan kesempatan belajar, hingga masyarakat yang menikmati hasil pembangunan yang lebih berkualitas.

Mungkin itulah sebabnya istilah CLBK terdengar begitu tepat.
Sebab yang kembali bersemi bukan hanya hubungan antara Bank NTT dan Undana.
Yang tumbuh kembali adalah keyakinan bahwa membangun Nusa Tenggara Timur tidak bisa dikerjakan sendiri. Ia membutuhkan kolaborasi. Membutuhkan kepercayaan. Dan membutuhkan keberanian untuk kembali berjalan bersama.
Di usia ke-64 Bank NTT, pertemuan itu menjadi lebih dari sekadar seremoni.
Ia menjadi pengingat bahwa ketika dua kekuatan terbesar milik Nusa Tenggara Timur kembali menyatukan langkah, yang sesungguhnya sedang dibangun bukan hanya sebuah kerja sama, melainkan harapan baru bagi masa depan daerah ini(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *