Kupang,Arahntt.com-Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menegaskan pentingnya peran kepala sekolah dan guru sebagai garda terdepan dalam menanamkan jiwa, semangat, dan nilai-nilai juang 1945 kepada generasi muda. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri acara Penutupan Pelatihan Calon Sosialisator Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 1945 (JSN ’45) bagi para kepala sekolah dan guru se-Provinsi NTT di Hotel Kristal Kupang, Sabtu (19/9/2026).
Pelatihan tersebut diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (DPP LVRI) sebagai bagian dari upaya memperkuat pewarisan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus melalui lingkungan sekolah.
Pelatihan Calon Sosialisator JSN ’45 merupakan program DPP LVRI untuk membekali para pendidik dengan pemahaman mengenai Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai Juang 1945 serta kemampuan untuk mewariskannya kepada generasi muda. Pelatihan tidak hanya membahas sejarah perjuangan kemerdekaan, tetapi juga nilai patriotisme, cinta tanah air, persatuan, rela berkorban, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, pantang menyerah, serta semangat mengutamakan kepentingan bangsa dan sesama.
Materi pelatihan juga diarahkan pada nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekolah. Peserta dibekali pemahaman tentang sejarah perjuangan bangsa, Pancasila dan nilai kebangsaan, keteladanan para pejuang, serta metode sosialisasi JSN ’45 kepada generasi muda. Melalui proses pembelajaran, diskusi, dan praktik penyampaian materi, peserta diharapkan tidak hanya memahami JSN ’45 secara konseptual, tetapi mampu menyampaikannya dengan cara yang sederhana, relevan, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Kepala sekolah dan guru dipilih sebagai peserta karena sekolah merupakan salah satu ruang strategis dalam pembentukan karakter generasi muda. Kepala sekolah memiliki peran kepemimpinan dalam membangun budaya dan keteladanan di lingkungan sekolah, sementara guru berinteraksi langsung dengan peserta didik dalam proses pendidikan sehari-hari. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta diharapkan menjadi sosialisator JSN ’45 di sekolah masing-masing, sehingga nilai-nilai perjuangan tidak berhenti sebagai pengetahuan sejarah, tetapi dapat diterapkan melalui sikap, disiplin, tanggung jawab, semangat belajar, persatuan, dan kepedulian terhadap bangsa dan sesama.
Wakil Gubernur Johni Asadoma menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada DPP LVRI yang telah menjadi penyelenggara pelaksanaan pelatihan. Ia berharap seluruh materi yang diperoleh peserta selama mengikuti pelatihan dapat dipahami, dihayati, dan diterapkan dalam pelaksanaan tugas sebagai kepala sekolah maupun guru.
Menurutnya, pemilihan kepala sekolah dan guru sebagai calon sosialisator memiliki alasan yang kuat. Para pendidik merupakan pihak yang berhadapan langsung dengan generasi muda dan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, sikap, serta cara pandang peserta didik terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Saya rasa ada alasan dibalik mengikutsertakan para kepala sekolah dan guru pada kegiatan ini. Karena mereka akan berperan menanamkan jiwa, semangat, dan nilai juang 1945 kepada para siswa/siswi dan memberi manfaat besar bagi generasi penerus bangsa,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa pewarisan JSN ’45 tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan. Kepala sekolah dan guru, kata dia, harus mampu menunjukkan sikap, ucapan, dan tindakan yang baik dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menjadi contoh bagi peserta didik.
“Khusus bagi kepala sekolah, anda adalah lokomotif pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Kalau kepala sekolahnya lemah, tidak punya semangat juang yang tinggi, maka ke bawah juga akan terpengaruh semua,” tegasnya.
Wagub juga mengingatkan para guru membangun dan mengembangkan kedisiplinan, motivasi belajar, serta kemampuan peserta didik dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan yang berlangsung semakin cepat. Menurutnya, generasi muda perlu dipersiapkan agar mampu menghadapi persaingan masa depan. Karena itu, sekolah tidak hanya dituntut membekali siswa dengan pengetahuan akademik, tetapi juga membangun karakter, semangat belajar, kreativitas, keterampilan, dan daya juang.
“Kita harus membangun motivasi belajar bagi mereka (anak sekolah) dan harus disiplin. Karena disiplin adalah napas kehidupan. Tidak ada orang yang maju dan berhasil tanpa disiplin yang kuat,” ungkap Wakil Gubernur.
Dalam konteks perkembangan teknologi digital, Wagub Johni mengingatkan pentingnya penggunaan teknologi secara bijaksana. Ia menilai teknologi dan media sosial dapat menjadi sarana positif untuk mendorong kreativitas dan inovasi, tetapi penggunaannya perlu dikendalikan agar tidak berkembang menjadi ketergantungan yang justru mengganggu proses belajar dan perkembangan peserta didik.
Johni juga mengaitkan penguatan karakter dengan upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan yang diwariskan kepada generasi muda harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, antara lain melalui disiplin, kerja keras, tanggung jawab, kemauan belajar, serta kemampuan mengembangkan diri.
Sementara itu, Ketua Umum DPP LVRI Jenderal TNI (Purn.) H.B.L. Mantiri mengatakan, perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia oleh para pejuang tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi harus menjadi sumber nilai dan kekuatan moral bagi generasi penerus bangsa.
Dalam sambutannya, Mantiri secara khusus mengangkat kisah perjuangan Herman Josef Fernandes, putra NTT yang sejak usia muda terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan sebagai anggota Tentara Pelajar. Menurutnya, perjalanan Herman menunjukkan bagaimana pendidikan dapat membentuk nasionalisme, patriotisme, kemanusiaan, keberanian, tanggung jawab, rela berkorban, serta semangat pantang menyerah. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bekal penting dalam perjuangannya hingga gugur sebagai seorang pejuang.
Mantiri menegaskan bahwa kisah para pejuang seperti Herman Josef Fernandes perlu dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini dibangun melalui pengorbanan nyata para pendahulu.
Ia berpesan kepada para peserta pelatihan agar tidak sekadar mampu menjelaskan JSN ’45, tetapi juga mampu menunjukkan nilai-nilai tersebut melalui pikiran, perasaan, sikap, dan tindakan. “Pewarisan JSN 45 bukan berarti mengajak generasi muda untuk hidup di masa lalu, tapi diharapkan nilai-nilai luhur perjuangan masa lalu menjadi kekuatan moral untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan,” ujarnya.
Mantiri juga menyampaikan empat prinsip dalam menghadapi persoalan dan tantangan kehidupan, yakni _be prepared for it, be patient in it, be prayerful to it, dan be productive because of it._ Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kesiapan, kesabaran, kedekatan dengan Tuhan, serta kemampuan untuk tetap produktif ketika menghadapi kesulitan.
“Semoga kegiatan ini diharapkan memperkuat peran dunia pendidikan dalam meneruskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda NTT sekaligus membentuk peserta didik yang memiliki karakter, semangat kebangsaan, disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan,” kata beliau(tim)






