Kupang,Arahntt.com-Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mengapresiasi film dokumenter Moko: Bisikan Logam Tua yang mengangkat kehidupan masyarakat Alor bersama moko sebagai warisan budaya dan identitas daerah. Ia menegaskan, pelestarian budaya perlu berjalan seiring dengan perkembangan zaman agar nilai-nilai luhur tetap terjaga tanpa mengabaikan kebutuhan dan kemampuan masyarakat masa kini.
Apresiasi tersebut disampaikan Wakil Gubernur NTT saat menghadiri pemutaran film tersebut di Cinepolis, Lippo Plaza Kupang, Jumat (9/10/2026) sore. Film ini dijadwalkan tayang pada 9–10 Oktober 2026.
“Sebagai putra Alor, film ini memberikan pemahaman lebih mendalam tentang moko, yang selama ini dikenal sebagai benda pusaka masyarakat Alor. Melalui dokumenter ini, penonton diajak melihat moko bukan hanya sebagai benda berharga, melainkan bagian dari kehidupan sosial, tradisi perkawinan, perdamaian, dan identitas budaya masyarakat,” ungkapnya.
Wakil Gubernur juga mengapresiasi dedikasi sutradara, produser, dan seluruh tim yang telah mendokumentasikan kehidupan masyarakat Alor di tengah berbagai tantangan produksi. Menurutnya, karya seperti ini penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya NTT kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
“Budaya harus kita pertahankan, tetapi juga perlu kita sesuaikan dengan perkembangan zaman. Kita menghormati moko sebagai warisan budaya dan identitas masyarakat Alor. Namun, jangan sampai tradisi menjadi beban bagi keluarga. Dalam perkawinan, cinta, tanggung jawab, dan kesiapan membangun rumah tangga harus menjadi hal utama,” tegasnya.
Wagub Johni juga mendorong pendalaman sejarah moko, termasuk asal-usul, proses pembuatan, perkembangan fungsi, dan persebarannya. Menurutnya, penguatan dokumentasi dan penelitian akan membantu masyarakat memahami warisan budaya secara lebih utuh sekaligus menjaga pengetahuan tersebut agar tidak terputus antargenerasi.
Menutup tanggapannya, Wakil Gubernur NTT mengajak para sineas dan pegiat budaya untuk terus mengangkat kekayaan tradisi dari berbagai wilayah di NTT.
Sutradara Reynolds Padji menyampaikan bahwa film tersebut tidak semata-mata membahas benda moko, tetapi lebih menyoroti manusia yang hidup bersama moko serta makna yang mereka berikan terhadap warisan budaya tersebut.
“Ini bukan hanya tentang moko, tetapi tentang manusia yang hidup dengan moko. Kami melihat kisah ini layak diangkat dan didokumentasikan,” ungkapnya.
Sementara itu, produser Angie menjelaskan bahwa film ini dibuat untuk mendokumentasikan masyarakat Alor yang hidup berdampingan dengan moko dan budayanya.
“Proses produksi melibatkan 12 orang dalam tim yang membawa perlengkapan dari Kupang ke Alor dan menjalani proses dokumentasi selama sepuluh hari,” pungkas Angie.
Kurator UPTD Museum Daerah Provinsi NTT, Ito Da Santo, turut mengapresiasi film tersebut karena memberikan perspektif baru dalam memahami moko. Ia menjelaskan bahwa moko memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat Alor, termasuk tradisi perkawinan, religi, perdamaian, dan identitas budaya.
Sementara itu Wakil Bupati Alor turut, Rocky Winaryo mengapresiasi kualitas film yang sangat baik, dari aspek pengambilan gambar maupun penyampaian cerita.
“Film ini luar biasa dan patut diapresiasi. Alor memiliki banyak cerita yang dapat diangkat menjadi karya dokumenter maupun film. Ke depan, kami berharap para sineas dapat berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Alor untuk mengangkat kisah-kisah budaya lainnya,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, sejumlah penonton menyampaikan bahwa film ini memberikan refleksi tentang penghormatan terhadap perempuan, nilai-nilai perkawinan, dan pentingnya mewariskan pengetahuan budaya kepada generasi muda.
Harapan juga disampaikan agar film tersebut dapat diputar di Alor dan daerah lain sehingga manfaat edukasinya menjangkau lebih banyak masyarakat(tim)






