Alor,Arahntt.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Alor harus diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat lokal sekaligus menjaga keberlanjutan konservasi laut. Pemerintah Provinsi NTT juga mulai mendorong penataan kontribusi kapal wisata dan pinisi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di kawasan wisata bahari Alor.
Hal itu disampaikan Melki Laka Lena saat berdiskusi bersama kelompok UMKM, peserta kegiatan field trip muatan lokal konservasi kelautan, dan mitra Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di kawasan Taman Suaka Alam Perairan (TSAP) Pantai Sebanjar, Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut, Senin (25/5/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, Ketua DPRD Kabupaten Alor, pimpinan OPD Kabupaten Alor, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Doris Rihi, serta Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT.
Dalam diskusi tersebut, Melki menilai Alor memiliki daya tarik wisata yang kuat dan berpotensi menjadi salah satu motor penggerak ekonomi baru di NTT. Menurutnya, wisatawan yang datang ke Alor umumnya memiliki keinginan untuk kembali karena kekuatan alam dan pengalaman wisata yang dimiliki daerah tersebut.
“Kalau orang datang ke Alor satu kali, pasti menyisakan rindu dan ingin datang lagi. Itu artinya Alor punya kekuatan wisata yang besar,” kata Melki.
Ia mengatakan sektor pariwisata memiliki efek berantai yang luas terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kehadiran wisatawan, menurutnya, akan menggerakkan sektor hotel, kuliner, transportasi, ekonomi kreatif, hingga penjualan produk UMKM lokal.
“Hotel butuh makan minum, butuh transportasi, butuh ekonomi kreatif, butuh kuliner, dan membuka lapangan kerja. Karena itu pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi di Alor,” ujarnya.
Melki mencontohkan kontribusi sektor perhotelan terhadap PAD di beberapa daerah wisata di Pulau Sumba yang mampu menghasilkan puluhan miliar rupiah setiap tahun. Ia menilai Alor memiliki potensi serupa apabila pengelolaan pariwisata dilakukan secara serius dan terintegrasi.
Ia juga meminta pemerintah daerah menyiapkan model wisata yang mampu menjangkau berbagai segmen wisatawan. Menurutnya, Alor tidak harus sepenuhnya diarahkan menjadi destinasi premium seperti Labuan Bajo, tetapi perlu membuka ruang bagi wisatawan kelas menengah hingga umum.
“Kalau Labuan Bajo memang sudah diarahkan pusat sebagai wisata premium dan pasti mahal. Tapi Alor masih bisa menerima semua kelas wisatawan. Itu yang harus disiapkan dengan baik,” katanya.
Selain pengembangan wisata, Melki juga menyoroti aktivitas kapal wisata dan pinisi yang rutin masuk ke wilayah Alor. Ia mengungkapkan pemerintah daerah bersama pemerintah pusat sedang membahas mekanisme agar aktivitas wisata tersebut memberikan kontribusi langsung terhadap daerah.
“Kita sedang diskusi dengan pemerintah pusat supaya kapal-kapal wisata yang masuk juga memberi kontribusi bagi daerah. Jangan daerah hanya menerima dampak sampahnya saja, tetapi tidak mendapatkan manfaat ekonomi,” ujar Melki.
Dalam forum itu, Melki juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara konservasi lingkungan dan kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir. Ia meminta seluruh mitra konservasi, organisasi lingkungan, dan pemerintah daerah mencari formula yang mampu mempertemukan kepentingan perlindungan ekosistem laut dengan penguatan ekonomi warga.
Menurutnya, konservasi tidak akan berjalan efektif apabila masyarakat merasa ruang hidup dan mata pencahariannya dibatasi tanpa adanya manfaat ekonomi yang dirasakan secara langsung.
“Konservasi akan berjalan baik kalau berdampak juga pada ekonomi masyarakat lokal. Kalau masyarakat merasa penghidupannya dibatasi, pasti muncul dinamika. Karena itu konservasi dan ekonomi lokal harus berjalan bersama,” katanya.
Melki mencontohkan konsep perhutanan sosial yang memadukan fungsi konservasi dengan manfaat ekonomi masyarakat. Model serupa, menurut dia, perlu diterapkan dalam pengelolaan kawasan bahari di Alor.
Ia juga meminta kualitas kerja sama antara pemerintah daerah dan para mitra konservasi dari dalam maupun luar negeri terus ditingkatkan. Evaluasi terhadap program-program konservasi sebelumnya, kata dia, perlu dilakukan untuk memastikan dampaknya terhadap lingkungan dan ekonomi masyarakat lokal benar-benar terukur.
“Yang kita kerjakan harus punya dampak bagi konservasi lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Itu yang harus menjadi fokus bersama,” ujarnya.
Di sektor ekonomi masyarakat, Melki turut mendorong perluasan akses pasar bagi produk-produk UMKM lokal. Pemerintah Provinsi NTT, kata dia, saat ini tengah mengembangkan konsep hilirisasi produk daerah dan penguatan pemasaran melalui NTT Mart agar produk masyarakat memiliki ruang penjualan yang layak.
Ia mengatakan produk tenun, kuliner, dan hasil ekonomi kreatif masyarakat Alor harus mendapat tempat yang terhormat di pasar lokal maupun regional.
“Produk mama-mama dan anak muda Alor harus punya pasar yang baik. Tugas pemerintah memastikan produk lokal ini bisa dijual dengan layak dan memberi nilai tambah bagi masyarakat,” kata Melki.
Dalam kesempatan tersebut, Melki juga menilai sektor pariwisata dapat berkembang lebih cepat apabila masyarakat mampu menciptakan pengalaman positif bagi wisatawan yang datang ke Alor. Ia mencontohkan sejumlah investor dan pelaku usaha yang akhirnya membangun bisnis di daerah wisata karena memiliki keterikatan emosional dengan daerah tersebut.
Menurut dia, kesan positif dan kenyamanan wisatawan menjadi faktor penting untuk menarik investasi baru ke daerah.
“Kalau orang jatuh hati dengan suatu daerah, dia bisa kembali lagi, bahkan membangun usaha di sana. Karena itu wisatawan harus dilayani dengan baik supaya mereka punya pengalaman positif tentang Alor,” ujarnya.
Melki memastikan Pemerintah Provinsi NTT akan terus memberikan dukungan pembangunan bagi Kabupaten Alor, termasuk di sektor infrastruktur dan pariwisata. Ia menyebut Alor menjadi salah satu daerah prioritas pembangunan pemerintah provinsi.
“Walaupun anggaran terbatas, Alor tetap menjadi prioritas pembangunan pemerintah provinsi,” kata Melki.
Sementara itu, Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo mengatakan wisata bahari menjadi salah satu kekuatan utama Kabupaten Alor. Ia menyebut daya tarik bawah laut Alor memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan destinasi wisata dunia.
“Kalau melihat alam bawah laut Alor, itu luar biasa. Banyak wisatawan datang sekali lalu ingin kembali lagi. Itu berarti Alor punya daya tarik wisata yang kuat,” ujar Rocky.
Ia mengakui dukungan Pemerintah Provinsi NTT terhadap pembangunan infrastruktur jalan menuju kawasan wisata mulai terlihat, termasuk pembangunan ruas jalan provinsi di wilayah Alor.
Rocky berharap dukungan tersebut terus dilanjutkan untuk mempercepat pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
“Pariwisata Alor ini adalah anugerah Tuhan dan harus kita kelola dengan baik. Kami berharap dukungan pemerintah provinsi terus diperkuat,” katanya.
Usai berdiskusi, Gubernur bersama rombongan meninjau stan UMKM di kawasan Pantai Sebanjar. Dalam kunjungan tersebut, Melki membeli sejumlah kain tenun khas Alor serta produk makanan dan minuman lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku UMKM di wilayah pesisir Alor(tim)






