SumbaBaratDayaArahntt.com – Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, mengunjungi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Kamis (15/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Johni didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Mahadin Sibarani. Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Wulla, turut mendampingi rombongan menuju lokasi terdampak gempa.
Dari bandara, Bandara Lede Kalumbang, Tambolaka Wagub Johni dan rombongan menuju ke Desa Merekehe dan Desa Wai Kadada di Kecamatan Kodi Bangedo.
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, menyampaikan turut berduka cita atas musibah gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Sumba Barat pada 4 Oktober lalu.
Ia mengatakan, meskipun bencana alam tidak dapat dikendalikan manusia, langkah-langkah pencegahan tetap perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerusakan.
“Kita bersyukur, tadi Bupati sudah bilang, tidak ada korban jiwa. Yang luka di sini satu orang luka ringan. Satu lagi di Sumba Barat Daya cuma satu orang yang luka ringan,” ujarnya.
Mantan Kapolda NTT itu mengatakan, berdasarkan data, terdapat 896 rumah yang terdampak gempa.
Secara khusus, Johni mengajak masyarakat bersyukur atas kondisi yang terjadi di Sumba sekaligus berdoa agar tidak ada lagi gempa susulan.
“Hanya Tuhan yang bisa mengendalikan gempa itu. Manusia hanya bisa berusaha untuk mencegah tidak terjadi korban jiwa ataupun luka ataupun kerusakan,” katanya.
Purnawirawan Polri ini juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik ketika gempa terjadi. Warga diminta segera keluar dari rumah dengan tenang dan mencari tempat terbuka yang jauh dari bangunan atau benda yang berpotensi membahayakan.
“Kalau terjadi gempa jangan panik. Rasakan gempa, kemudian keluar kamar, buka pintu, cari ke tempat yang terbuka. Jangan lama-lama dalam rumah, tapi juga jangan loncat-loncat lari pergi tawar, tiang lagi, kepala bisa lagi. Malah repot,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk membangunkan seluruh anggota keluarga dan bergerak bersama menuju tempat yang lapang. Setelah berada di lokasi aman, warga diminta tetap tenang dan menunggu hingga guncangan berhenti.
Selain langkah penyelamatan saat gempa, Johni menekankan pentingnya membangun rumah dengan konstruksi yang memenuhi standar keselamatan. Menurutnya, pengalaman gempa di Flores dan Sumba harus menjadi pelajaran agar masyarakat tidak membangun rumah secara asal-asalan.
“Rumah-rumah harus dibangun dengan konstruksi yang baik. Terutama dia punya pilar-pilar, dia punya kolom-kolom, bias, segala macam harus dibuat. Jangan asal jadi,” katanya.
Dia menjelaskan, penggunaan bahan bangunan yang memenuhi standar serta konstruksi yang tepat merupakan bagian penting dari upaya mengurangi risiko kerusakan dan jatuhnya korban saat gempa bumi.
Kunjungan Pemerintah Provinsi NTT ke wilayah terdampak, lanjut Johni, bertujuan melihat secara langsung kondisi masyarakat, kerusakan rumah, serta kebutuhan warga setelah bencana.
Pemerintah juga ingin memperoleh gambaran mengenai kondisi sekolah, kantor pemerintahan, puskesmas, fasilitas umum, jalan, jembatan, dan infrastruktur lainnya yang terdampak.
“Sehingga kami tahu kondisi di lapangan seperti apa, itu menjadi temuan, datakan untuk segera kami tindaklanjuti,” katanya.
Baginya, upaya Pemerintah ini merupakan wujud kepedulian. Dia berpesan agar masyarakat agar tidak menganggap remeh dengan bencana. Ketika ada getaran maka masyarakat harus mengevakuasi diri ke tempat aman. Hingga kini tercatat lebih dari 700 kali getaran gempa bumi di Pulau Sumba.
“Pemerintah tetap memperhatikan kesulitan yang dihadapi akibat gempa,” ujarnya.
Dia mengatakan, tim SAR dan BPBD maupun BNPB telah hadir ke lokasi pada hari kedua pasca gempa bumi.
Camat Kodi Bangedo Elisabeth Kaka menyampaikan terima kasih karena Pemerintah Provinsi NTT dan Kabupaten Sumbawa Barat Daya sudah mengunjungi wilayah ini.
“Kehadiran Bapak Wakil Gubernur bersama Ibu Bupati dan seluruh jajaran, termasuk BNPB dan BPBD Provinsi Nusa Tenggara Timur, merupakan bentuk kepedulian yang sangat kami apresiasi. Kami berharap bencana ini segera berakhir dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman,” ujarnya.
Dia mengenang ketika rumah yang dibangun masyarakat dari jerih payah itu harus runtuh akibat bencana alam awal Oktober 2026 lalu. Elisabeth menyebutkan ada rumah yang tidak bisa lagi ditinggali karena kondisinya rusak berat.
“Sejumlah bangunan yang sebelumnya nyaman ditempati kini hancur berantakan, dinding rumah retak dan pecah, sehingga tidak dapat dihuni lagi. Memang sampai saat ini tidak ada korban jiwa. Namun, kerusakan fisik bangunan terjadi hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Ende. Inilah kondisi yang dapat kami sampaikan,” ujarnya.
Bupati Sumba Barat Daya Ratu Wulla menambahkan, pihaknya terus melakukan pendataan terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi. Data tersebut telah disampaikan kepada pemerintah dan menjadi dasar untuk menyalurkan bantuan kepada warga.
Pemerintah daerah juga telah menggelar sejumlah rapat untuk membahas langkah penanganan bencana, termasuk menyiapkan bantuan permakanan bagi masyarakat terdampak. Selain itu, Pemda Ende telah menyiapkan anggaran untuk membantu warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa.
Saat ini, ujar dia, tingkat kerusakan bangunan masih dalam proses perhitungan oleh tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan. Pendataan akan terus dilakukan bersamaan dengan penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sebelumnya, pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi, BNPB, BPBD, dan seluruh pemangku kepentingan juga telah menggelar rapat untuk membahas kesiapsiagaan menghadapi bencana susulan.
Rapat tersebut bertujuan mengevaluasi kemampuan daerah dalam menangani kemungkinan terjadinya gempa susulan, termasuk kesiapan logistik, dukungan alat berat, serta kebutuhan lain yang diperlukan dalam penanganan bencana.
Ratu Wulla mengatakan, mengingat gempa susulan masih terjadi hingga saat ini, Pemerintah Daerah terus mempersiapkan berbagai langkah antisipasi agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat apabila terjadi bencana lanjutan.
Bantuan yang disalurkan Wagub Johni Asadoma sebanyak 58 karung ukuran lima kilogram dan 10 tenda. Total secara keseluruhan bantuan yang disalurkan Pemerintah Provinsi NTT sebanyak 3,8 ton beras, 50 tandon, dan 100 tenda.
Adapun gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,1 yang mengguncang wilayah Sumba Barat Daya pada Minggu, 4 Oktober 2026, berdampak pada 496 unit rumah. Sebanyak dua orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diperbarui pada 14 Oktober 2026 pukul 18.00 WITA, sebanyak 496 kepala keluarga (KK) terdampak akibat gempa tersebut.
Dari total 496 rumah terdampak, sebanyak tujuh unit mengalami rusak berat, 34 unit rusak sedang, dan 455 unit rusak ringan.
Gempa tersebut juga berdampak pada sejumlah fasilitas umum. Tercatat 12 fasilitas kesehatan, 24 rumah ibadah, 43 fasilitas pendidikan, dan 21 unit kantor mengalami dampak akibat bencana tersebut.
Secara keseluruhan, gempa ini berdampak pada empat kabupaten di Pulau Sumba, dengan total 19 kecamatan terdampak.
Keempat kabupaten tersebut meliputi Kabupaten Sumba Barat Daya dengan 11 kecamatan, Sumba Barat satu kecamatan, Sumba Tengah enam kecamatan, dan Sumba Timur satu kecamatan. (*)






