KUPANG, Arahntt.com— SMK Negeri 1 Kupang menerapkan sistem pemilihan langsung berbasis digital dalam Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2026–2027, Jumat (23/10/2026).
Pemilihan yang berlangsung di Lapangan SMK Negeri 1 Kupang itu diikuti lima pasangan calon (paslon). Para siswa dan guru diberikan kesempatan menggunakan hak suara melalui aplikasi I-Voting yang dikembangkan oleh pihak sekolah.
Plt. Kepala SMK Negeri 1 Kupang, Franky A. Lesiangi, S.ST., M.Par., mengatakan pemilihan OSIS tahun ini dirancang menyerupai proses demokrasi dalam pemilihan umum. Seluruh tahapan telah berlangsung sekitar tiga minggu, mulai dari penjaringan calon di masing-masing jurusan, pembekalan kepemimpinan, kampanye hingga pemungutan suara.
“Jadi lima pasang yang ada itu mewakili lima jurusan. Artinya, kami memulai dengan cara demokrasi di negara yang kami terapkan dalam skala kecil di sekolah,” kata Franky.
Menurutnya, konsep tersebut diterapkan sebagai sarana pendidikan politik dan demokrasi bagi siswa. Terlebih, sebagian siswa nantinya akan menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2029.
“Tujuannya karena anak-anak ini di 2029 nanti menjadi pemilih pemula. Jadi mereka harus belajar bagaimana prosesnya dari awal sampai akhir,” ujarnya.
Sebelum pemilihan, sekolah juga menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) selama lima hari yang melibatkan sekitar 130 siswa. Dalam kegiatan tersebut, sekolah turut menghadirkan pemateri dari luar, termasuk Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Franky menjelaskan, pola pemilihan tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya Ketua OSIS hanya dipilih melalui sistem perwakilan kelas, kini sekolah memberikan kesempatan kepada siswa dan guru untuk menentukan pilihan secara langsung.
“Nah, kali ini saya mau semua orang memilih. Sehingga ketika anak-anak itu terpilih dan bekerja, tidak ada yang bilang, ‘siapa suruh pilih dia’. Artinya mereka dipilih karena kita semua punya suara,” katanya.
Dalam simulasi demokrasi tersebut, lima jurusan di SMK Negeri 1 Kupang diibaratkan sebagai partai politik. Masing-masing jurusan melakukan penjaringan untuk menentukan calon terbaik, kemudian kandidat ketua mencari pasangan calon wakil ketua.
Para paslon selanjutnya diberikan ruang untuk berkampanye, termasuk membuat poster dan masuk ke kelas-kelas pada waktu tertentu untuk menyampaikan visi, misi dan program kerja.
“Kenapa kami bikin lima jurusan? Jurusan itu kami ibaratkan partai. Partainya merekrut paslon terbaiknya, dia usung. Nanti kandidat terbaiknya mencari wakil,” jelas Franky.
Ia berharap siapa pun yang terpilih nantinya mampu merealisasikan visi, misi dan program yang telah disampaikan kepada warga sekolah. OSIS juga diharapkan menjadi jembatan antara siswa dengan pihak sekolah dalam menyampaikan aspirasi.
“Kami mau mereka dikumpulkan di dalam satu wadah. Wadahnya menyampaikan kepada kami sebagai pengambil kebijakan, sehingga kebijakannya bisa pro terhadap mereka,” ujarnya.
Dalam pemilihan tersebut, Paslon 01 Juanita dan Nando mengusung visi membangun kepribadian yang baik, menjadi teladan serta menjadikan OSIS sebagai wadah untuk menampung aspirasi, ide dan harapan siswa tanpa membeda-bedakan. Program yang ditawarkan di antaranya SMK Peduli serta SMK Digital dan Literasi untuk meningkatkan minat baca.
Paslon 02 Rafky dan Manda menawarkan peningkatan kedisiplinan serta ruang aspirasi digital bagi warga sekolah. Program unggulan mereka antara lain pembentukan tim patroli keamanan sekolah yang melibatkan OSIS, PMR dan Pramuka, class meeting setiap akhir semester, penguatan kegiatan ekstrakurikuler serta forum aspirasi digital.
Sementara Paslon 03 Jolyn dan Maeschel membawa visi dan misi dengan semangat “Dengarkan Aspirasi, Wujudkan Aksi”.
Paslon 04 Brayen dan Almira mengusung gagasan menjadikan OSIS sebagai penggerak perubahan nyata, berani, berprinsip dan berakar pada iman, sekaligus memperjuangkan aspirasi warga sekolah untuk mendorong perubahan di SMK Negeri 1 Kupang.
Adapun Paslon 05 Citra dan Princes menawarkan pendekatan persuasif, inovatif dan inklusif. Sejumlah program mereka mencakup forum komunikasi bulanan, program sahabat sekolah dan patroli preventif, ruang pelaporan dan pendampingan, sinergi ekstrakurikuler dan jurusan, literasi digital, hingga penerapan budaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan pengelolaan bank sampah.
Proses pemungutan suara dilakukan menggunakan aplikasi I-Voting dan dibuka selama sekitar 30 menit. Pemilih mengakses aplikasi dengan memindai barcode yang telah disediakan. Setelah masuk, pemilih dapat melihat daftar pasangan calon dan menentukan pilihannya.
Siswa menggunakan username yang telah dibagikan melalui kartu pemilihan, sementara guru menggunakan identitas yang telah disiapkan dalam sistem.
Franky menyebut jumlah pemilih yang diproyeksikan menggunakan hak suara sekitar 1.600 orang yang terdiri dari siswa dan guru. Namun, jumlah suara yang masuk diperkirakan dapat lebih rendah karena sejumlah faktor, seperti siswa yang sakit, tidak hadir atau tidak membawa telepon seluler.
Wakil Komite SMK Negeri 1 Kupang, Martinus Kamaleng, S.Pd., mengatakan pemilihan langsung berbasis digital tersebut merupakan yang pertama kali dilaksanakan di sekolah itu.
“Kalau tahun-tahun yang lalu kami menggunakan cara perwakilan, tidak pilih langsung seperti ini. Tapi kali ini kami mencoba melakukan pemilihan langsung seperti yang dilakukan oleh negara kita,” kata Martinus.
Menurut Martinus, sistem I-Voting tersebut dibuat sendiri oleh tim yang dipercaya pihak sekolah. Karena baru pertama kali diterapkan, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan berikutnya.
“Sistem dibuat sendiri dari sekolah karena ada tim yang dipercaya untuk membuat sistem ini. Kadang-kadang masih ada kendala, tetapi diharapkan pada periode berikutnya tidak ada kendala lagi,” ujarnya.
Ia menilai pemilihan langsung bukan sekadar menentukan Ketua dan Wakil Ketua OSIS, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran demokrasi bagi siswa.
Melalui mekanisme tersebut, siswa diperkenalkan secara langsung pada tahapan demokrasi, mulai dari penjaringan kandidat, penyusunan visi dan misi, kampanye, pendidikan kepemimpinan hingga menggunakan hak suara untuk menentukan pemimpin organisasi siswa di sekolah(tim)






