Berita  

SMKN 1 Kupang dan JNE MOU Buka Kelas Industri Bersama

KUPANG, Arahntt.com – SMK Negeri 1 Kupang memperluas kerja sama dengan dunia industri melalui pembukaan kelas industri bersama  perusahaan JNE pada Rabu 26 Agustus 2026

Kerja sama ini diarahkan tidak hanya untuk memperkuat pembelajaran siswa, tetapi juga membuka jalur praktek kerja lapangan (PKL) hingga peluang rekrutmen setelah lulus.

Plt Kepala SMK Negeri 1 Kupang, Frengki A. Lesiangi, SST., M.Par., mengatakan kerja sama dengan dunia industri selama ini telah berjalan di sekolah. Namun, pihaknya kini mendorong pola kerja sama yang lebih terintegrasi melalui kelas industri.

“Kalau dengan JNE, kebetulan selama ini sudah bekerja sama dengan kita untuk pengembangan jurusan perkantoran yang ada konsentrasi logistiknya,” ujar Frengki, Jumat 28 Agustus 2026.

Menurut Frengki, kerja sama dengan JNE tidak hanya sebatas dukungan pembelajaran. JNE bahkan memiliki port atau ruang operasional di lingkungan SMKN 1 Kupang.

Sekolah menyediakan ruang untuk mendukung aktivitas tersebut. Keberadaan port JNE sekaligus menjadi sarana bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman praktik yang lebih dekat dengan aktivitas industri.

“Kita kasih space sedikit untuk mereka karena kita sebagai agen. Untuk pelajaran anak-anak sekalian juga untuk anak-anak berpraktik,” jelasnya.

Menurut dia, kerja sama itu kemudian diperluas dengan menghadirkan JNE secara langsung ke dalam proses pembelajaran melalui kelas industri.

“Kemarin itu kita bikin ruang lingkup kerja samanya lebih luas lagi, yaitu dengan cara mereka hadir di kelas sebagai industri,” ungkapnya.

Melalui program itu, SMKN 1 Kupang membuka kelas industri JNE. Salah satu fokusnya kolaborasi kurikulum antara sekolah dan perusahaan.

Nantinya, pembelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru sekolah. Tim dari JNE juga akan terlibat langsung dalam proses pengajaran.

“Pengajarnya juga kita blended, di mana ada tim JNE yang mengajar di kelas, ada juga tim guru yang sudah dilatih oleh JNE untuk mengajar di kelas,” jelas Frengki.

READ:  Bank NTT Sumbang Lemari dan Meja untuk Paroki Santo Pio Langke Majok

Pola tersebut diharapkan membuat materi pembelajaran siswa lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, siswa tidak hanya mendapatkan teori di sekolah, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai standar, budaya kerja dan kebutuhan industri sejak masih duduk di bangku SMK.

Program kelas industri tersebut juga terhubung dengan PKL. Siswa yang mengikuti kelas industri nantinya mendapat kesempatan menjalani PKL selama enam bulan di JNE. Setelah menyelesaikan masa praktik, siswa berpeluang direkrut menjadi karyawan JNE.

“Jadi dari kelas industri itu anak-anak dimasukkan ke program PKL selama enam bulan di JNE. Setelah itu mereka direkrut jadi karyawan JNE,” jelas Frengki.

Menurut dia, pola tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat dari alumni SMKN 1 Kupang yang kini bekerja di JNE. “Kebanyakan juga sekarang ini karyawan JNE yang baru ini juga alumni SMKN 1 Kupang yang sebelumnya mereka praktik di JNE,” ujarnya.

Frengki mengatakan kerja sama dengan JNE akan terus diperkuat. Sekolah berharap semakin banyak lulusan SMKN 1 Kupang yang dapat terserap di dunia kerja.

Peluang tersebut bahkan tidak hanya diarahkan kepada JNE. Sekolah juga ingin memanfaatkan jejaring asosiasi perusahaan logistik yang di dalamnya JNE menjadi salah satu anggota.

“Jadi kita mau lebih fokus lagi supaya lebih banyak alumni yang direkrut. Selain di JNE mungkin juga asosiasi perusahaan logistik, di mana JNE juga salah satu anggota,” katanya.

Dengan jaringan itu, lulusan diharapkan memiliki akses yang lebih luas untuk memasuki perusahaan-perusahaan di sektor logistik. “Sehingga mereka bisa bantu menyalurkan anak-anak kita ke situ,” tambah Frengki.

Frengki menilai kerja sama dengan JNE menjadi penting karena sekolah memiliki konsentrasi logistik pada jurusan perkantoran. Dia menyebut konsentrasi itu menjadi salah satu kekhususan yang dikembangkan SMKN 1 Kupang untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di sektor logistik.

READ:  Melki Laka Lena Minta Bank NTT Harus Kolaborasi Menuju   Sehat  dan Maju

“Jadi di JNE ini kan orang hanya tahu dan berpikir bahwa di situ hanya untuk pengiriman barang. Tetapi di perusahaan mereka fokus juga ke pendidikan. Jadi kami satu-satunya jurusan atau konsentrasinya logistik di NTT. Jadi kita gandeng JNE itu tujuan seperti itu,” terangnya.

Dia menyebut, untuk jurusan akuntansi, SMKN 1 Kupang menggandeng Bank BTN. Salah satu bentuk kolaborasinya adalah menghadirkan bank mini di lingkungan sekolah.

Bank mini itu digunakan sebagai sarana pembelajaran siswa agar mereka dapat mengenal praktik kerja perbankan secara lebih langsung.

“Jurusan akuntansi kita gandengan Bank BTN. Jadi mereka buat bank mini di sekolah sini untuk pengajaran,” kata Frengki.

Sementara itu, jurusan pemasaran bekerja sama dengan Alfamart. Sekolah membuka kelas industri yang melibatkan perusahaan ritel tersebut.

Siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran yang berkaitan dengan kebutuhan industri ritel, tetapi juga memiliki peluang bekerja di Alfamart setelah menyelesaikan pendidikan.

“Kalau untuk pemasaran digandeng oleh Alfamart. Jadi ada kelas Alfamart juga dan nanti anak-anak kita juga bekerja di Alfamart setelah tamat,” terangnya.

Berbeda dengan sebagian program industri lainnya, proses rekrutmen untuk Alfamart bahkan sudah dimulai sejak siswa berada di kelas X.

Kerja sama industri juga dikembangkan untuk jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). SMKN 1 Kupang menggandeng Binet Akademi dan Game Lab, dua perusahaan yang berbasis di Pulau Jawa.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat keterampilan siswa di bidang teknologi dan kebutuhan industri digital.

Sementara untuk jurusan pariwisata, sekolah sedang menggagas kerja sama dengan Garuda Indonesia, Lion Group dan Media Kita.

READ:  Melki -Jhoni  Minta Masyarakat Jangan  Mudah Percaya Pihak-pihak Yang Catut Namanya

“Kita sudah bersurat dan pertemuan, tetapi mungkin harus ada beberapa pertemuan lagi untuk memfinalisasi,” ungkap Frengki.

Jika proses pembahasan berjalan sesuai rencana, kerja sama tersebut ditargetkan dapat dimulai pada awal September 2026.

“Kalau mereka tidak keberatan, mungkin awal September ini kita sudah bisa jalin kerja sama dengan mereka,” sambungnya.

Dalam pelaksanaan kelas industri, sekolah tidak serta-merta memasukkan seluruh siswa ke dalam program. Ada proses penyaringan berdasarkan minat dan kebutuhan perusahaan.

Menurut Frengki, jurusan terlebih dahulu menyaring siswa yang berminat mengikuti program. Setelah itu, perusahaan mitra dapat melakukan seleksi secara langsung apabila jumlah peserta melebihi kuota.

“Misalkan kuotanya lebih dari 36, nanti perusahaan yang menyaring sendiri dengan cara tes sesuai dengan kriteria perusahaan,” jelasnya.

Sistem tersebut membuat proses seleksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan.

Frengki menjelaskan terdapat kelas industri tertentu yang membutuhkan kontribusi biaya kepada perusahaan mitra karena sekolah menggunakan jasa industri untuk mendukung pembelajaran, termasuk blended curriculum. Namun, biaya itu tidak dibebankan sebagai pungutan tambahan kepada orang tua siswa.

“Ada juga kelas itu berbayar, artinya pihak sekolah harus berkontribusi sekian untuk ke perusahaan itu. Karena kita pakai jasa mereka untuk blended kurikulum dan lain-lain. Pembayaran itu nanti kita ambil dari IPP. Jadi tidak ada pungutan tambahan dari orang tua siswa,” tegas Frengki.

Mekanisme rekrutmen siswa juga disesuaikan dengan kebijakan masing-masing perusahaan. Untuk kelas industri Alfamart, proses rekrutmen telah dimulai sejak siswa duduk di kelas X.

Sementara untuk program industri lainnya, proses tersebut umumnya dilakukan ketika siswa memasuki kelas XI. “Kalau di Alfamart mulai kelas X. Kalau selain Alfamart itu di kelas XI,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *