KUPANG, Arahntt.com – SMKN 1 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengirim sekitar 730 siswa kelas XI untuk belajar langsung di dunia industri. Program kunjungan industri ini dilakukan selama lima hari dengan melibatkan perusahaan swasta, perusahaan daerah, perusahaan nasional hingga instansi pemerintah.
Kepala SMKN 1 Kupang, Frengki Lesiangi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah untuk mendekatkan pembelajaran di kelas dengan kondisi nyata di dunia kerja.
“Yang kemarin itu program kegiatan kunjungan industri. Kita bagi lima hari untuk seluruh kelas 11, kurang lebih ada 730 anak. Kita kasih mereka pergi belajar di industri yang berkaitan dengan jurusan masing-masing di Kota Kupang,” ujar Frengki, Jumat 25 September 2026.
Program itu berlangsung sejak Jumat pekan lalu hingga Kamis kemarin. Para siswa ditempatkan di sejumlah perusahaan dan instansi, disesuaikan dengan kompetensi keahlian masing-masing.
Para siswa mengunjungi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank BTN, Telkom, Lintas Arta, TVRI, JNE serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Untuk siswa jurusan keuangan, misalnya, kunjungan dilakukan ke OJK dan Bank BTN. Sementara siswa yang berkaitan dengan bidang teknologi dan jaringan mendapat kesempatan belajar di perusahaan seperti Telkom dan Lintas Arta.
Adapun siswa yang berkaitan dengan penyiaran mendapat kesempatan untuk belajar di TVRI, termasuk melihat secara langsung proses produksi dan penyiaran berita.
“Di TVRI anak-anak belajar bagaimana cara menyiarkan berita. Jadi mereka tidak hanya belajar di kelas, tetapi melihat langsung bagaimana prosesnya di industri,” jelasnya.
Menurut Frengki, kunjungan industri dilaksanakan dalam jam belajar sekolah. Program ini juga menjadi agenda tahunan yang melibatkan seluruh siswa sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Setelah kunjungan industri, SMKN 1 Kupang melanjutkan pembelajaran dengan menghadirkan praktisi dari dunia industri ke sekolah melalui program guru tamu.
Praktisi tersebut akan memberikan pembelajaran berdasarkan pengalaman dan kebutuhan yang ada di dunia kerja.
Jika memungkinkan, siswa juga akan dibawa kembali ke tempat kerja praktisi tersebut untuk melihat penerapan materi yang telah dipelajari di kelas.
“Tujuannya supaya pembelajaran di kelas itu sama dengan yang terjadi di industri. Jadi ketika anak PKL atau magang, dia tidak kaget karena apa yang diajarkan sudah mereka lihat dan praktikkan di lapangan,” jelas Frengki.
Kolaborasi dengan dunia industri juga diarahkan untuk membuka peluang kerja bagi siswa setelah mereka menyelesaikan pendidikan.
Salah satunya melalui kelas Alfamart yang telah berjalan sejak 2019. Dalam program tersebut, siswa dibina sejak kelas X dan mengikuti proses seleksi sesuai dengan kriteria perusahaan.
Siswa yang lolos kemudian mendapatkan pembelajaran selama tiga tahun, termasuk kesempatan menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di gerai Alfamart. Setelah lulus, mereka berpeluang direkrut menjadi karyawan.
“Proses rekrut itu dari kelas 10 ke atas. Alfamart yang seleksi sesuai dengan kriteria mereka. Kemudian anak-anak diajarkan selama tiga tahun, PKL juga di gerai Alfamart, lalu setelah keluar mereka direkrut menjadi karyawan,” katanya.
Frengki menyebut program itu telah berjalan cukup lama dan sudah mendekati 100 lulusan yang direkrut Alfamart. Namun, tidak semua siswa memilih melanjutkan karier di perusahaan.
“Kalau Alfamart ini berjalan dari 2019. Jadi untuk pastinya sudah hampir 100 orang yang direkrut, karena setiap angkatan tidak semua anak mau kerja di Alfamart,” ujarnya.
Menurut dia, sekolah berupaya menyediakan sebanyak mungkin akses dan kesempatan bagi siswa untuk mengenal dunia kerja sejak dini.
“Intinya wadah dari sekolah ada. Tinggal anak-anak mau mengambil kesempatan itu atau tidak,” pungkasnya Frengki.
Evaluasi Belajar Lewat Rapor Tengah Semester
Menurut Frengki, selain memperkuat pembelajaran berbasis industri, SMKN 1 Kupang juga melakukan evaluasi capaian belajar siswa melalui penerimaan rapor tengah semester.
Frengki mengatakan rapor tersebut menjadi sarana bagi sekolah dan orang tua untuk mengetahui perkembangan siswa setelah mengikuti pembelajaran selama sekitar tiga bulan.
Penerimaan rapor dijadwalkan tanggal 10-11 September 2026. Nilai yang diberikan merupakan hasil dari proses pembelajaran, termasuk penilaian sumatif tengah semester, tugas harian hingga proyek yang diberikan guru.
“Tujuannya supaya orang tua juga mengetahui keadaan anak, terutama dalam hal nilai. Nanti ada penyampaian dari wali kelas mengenai tata tertib, disiplin dan seterusnya,” kata Frengki.
Siswa yang masih memiliki kekurangan dalam capaian pembelajaran diberikan kesempatan untuk melengkapi tugas atau mengikuti remedial.
Sekolah, kata dia, memberikan waktu kepada siswa untuk memperbaiki kekurangan sebelum pelaksanaan sumatif semester pada awal Desember 2026.
“Kalau nilai rapornya sudah ada dan masih ada yang kurang, mereka tinggal melengkapi. Kita memberikan kesempatan untuk melengkapi sampai sebelum pelaksanaan sumatif semester di bulan Desember,” jelasnya.
Frengki mengatakan evaluasi berkala penting agar sekolah, siswa dan orang tua memiliki kontrol yang sama terhadap perkembangan belajar.
Jika evaluasi baru dilakukan setelah enam bulan, kata dia, orang tua berpotensi baru mengetahui persoalan akademik anak ketika masalah sudah menumpuk.
“Tujuannya supaya guru, anak-anak dan orang tua ini ada korelasi yang bagus sehingga ada kontrol. Kalau penerimaan rapor tengah semester tidak dilakukan, jadwalnya bisa panjang sampai enam bulan. Takutnya orang tua kaget,” pungkasnya.***






